Ketika kalender menandai hari-hari seperti Waisak, Asadha, hotelcanova.info atau Kathina, mungkin yang terlintas di benak banyak orang adalah gambar vihara yang ramai, prosesi umat dengan bunga dan lilin, atau hari libur nasional. Tapi, tahukah kamu bahwa setiap hari besar Buddha itu ibarat sebuah bab dalam buku petunjuk hidup yang sangat bijak? Ini bukan sekadar peringatan historis belaka, melainkan momen perenungan, penyegaran spiritual, dan kesempatan untuk mempraktikkan ajaran inti Buddha Dhamma secara lebih intens. Yuk, kita telusuri lebih dalam, apa sih yang sebenarnya dirayakan dan mengapa momen-momen ini begitu sentral dalam kehidupan umat Buddha.
Waisak: Puncak dari Semua Perayaan Buddha
Kalau ada satu hari besar Buddha yang paling dikenal luas, bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional, itu adalah Waisak. Bayangkan ini seperti "Trilogi" dalam satu hari. Waisak memperingati tiga peristiwa luar biasa dalam kehidupan Siddhartha Gautama yang terjadi pada hari yang sama (purnama sidhi di bulan Waisak), tapi di tahun yang berbeda: kelahirannya sebagai Pangeran Siddhartha, pencapaian Penerangan Sempurnanya menjadi Buddha (yang kita kenal sebagai hari raya Vesak), dan kemangkatan mutlaknya (Parinibbana).
Jadi, dalam satu momen purnama, umat merenungkan seluruh siklus kehidupan: kelahiran, pencerahan, dan kematian yang damai. Perayaannya penuh simbol. Ritual "memandikan" bayi Buddha (Puja Bakti Pemandian) mengingatkan pada kelahiran dan kemurnian batin. Penerangan lilin dan lampion melambangkan cahaya kebijaksanaan yang menghalau kegelapan ketidaktahuan. Intinya, Waisak adalah ajakan untuk terlahir kembali dalam pemahaman yang lebih baik, mencerahkan pikiran sendiri, dan melepaskan segala ikatan keduniawian.
Apa yang Biasanya Terjadi di Hari Waisak?
- Puja Bakti & Meditasi Massal: Vihara dipadati umat untuk berdoa, mendengarkan khotbah Dhamma, dan bermeditasi bersama. Suasana hening dan khidmat sangat terasa.
- Prosesi & Pradaksina: Umat berarak mengelilingi candi atau rupang Buddha (berjalan searah jarum jam) sambil membawa lilin, dupa, dan bunga. Ini simbol penghormatan dan perenungan.
- Pelepasan Lentera & Satwa: Pelepasan lentera ke langit atau satwa (seperti burung atau kura-kura) adalah praktik simbolis melepas keterikatan dan mengembangkan cinta kasih (metta) kepada semua makhluk.
- Dana Makanan & Barang Keperluan: Beramal (dana) kepada para bhikkhu dan masyarakat kurang mampu adalah praktik nyata untuk melatih sifat dermawan dan mengurangi keakuan.
Asadha: Hari Dimulainya Ajaran Buddha Mengalir
Setelah mencapai Penerangan Sempurna, Buddha Gautama sempat berpikir apakah pengetahuannya yang sangat dalam dapat dipahami oleh orang lain. Hari besar Buddha yang disebut Asadha (atau Asalha Puja) ini merayakan momen ketika Beliau memutuskan untuk membabarkan ajarannya yang pertama kali. Peristiwa ini terjadi di Taman Rusa Isipatana, kepada lima pertapa yang sebelumnya adalah teman bertapanya. Khotbah pertama itu dikenal sebagai "Dhammacakkappavattana Sutta" atau "Memutar Roda Dhamma".
Di sini, untuk pertama kalinya, Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia (Ariya Sacca) dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jadi, Asadha adalah hari "kelahiran" Sangha (komunitas para bhikkhu), karena lima pertapa itu menjadi murid pertamanya. Tanpa hari ini, mungkin ajaran Buddha tidak akan tersebar ke seluruh dunia. Perayaannya lebih terfokus pada studi Dhamma, meditasi, dan penguatan tekad untuk menjalani jalan spiritual. Ini juga menjadi penanda awal masa Vassa (retret musim hujan) bagi para bhikkhu.
Kathina: Puncak Rasa Syukur dan Persaudaraan
Bayangkan setelah menjalani masa pelatihan intensif selama tiga bulan (Vassa), ada semacam acara penutupan yang penuh sukacita dan kedermawanan. Itulah Kathina. Hari besar Buddha ini unik karena bukan memperingati peristiwa hidup Buddha, tetapi lebih pada hubungan harmonis antara umat awam (umat) dan para bhikkhu (Sangha).
Setelah Vassa, para bhikkhu diizinkan untuk menerima jubah baru. Umat awam pun dengan penuh hormat dan sukacita menyumbangkan kain dan kebutuhan lainnya untuk dibuat menjadi jubah Kathina. Prosesnya sendiri sangat ritualistis, seringkali melibatkan pemotongan, jahit, dan pewarnaan kain secara tradisional dalam satu hari. Suasana di vihara selama Kathina biasanya sangat meriah, penuh dengan kegiatan gotong royong, persembahan makanan, dan kebahagiaan. Ini adalah momen puncak praktik "dana" (kedermawanan) dan memperkuat ikatan spiritual dalam komunitas.
Hari-Hari Penting Lainnya dalam Kalender Buddha
Selain tiga pilar utama di atas, ada beberapa hari besar Buddha lain yang juga punya makna spesial:
Magha Puja (Sangha Day)
Diperingati pada bulan purnama di bulan Magha. Hari ini memperingati pertemuan spontan 1250 arahat (bhikkhu yang telah mencapai pencerahan) yang semuanya adalah murid langsung Buddha, tanpa diundang, untuk mendengarkan wejangan singkat tentang prinsip-prinsip inti ajaran: menjauhi kejahatan, melakukan kebajikan, dan menyucikan pikiran. Ini menekankan pentingnya kesatuan dan kemurnian Sangha.
Uposatha: Hari Pengamatan yang Rutin
Ini bukan hari raya besar sekali setahun, melainkan hari pengamatan yang terjadi setiap minggu (empat fase bulan). Pada hari Uposatha, umat Buddha yang taat akan meningkatkan praktik spiritualnya: lebih banyak bermeditasi, melaksanakan aturan moral (sila) dengan lebih ketat, dan sering mendengarkan khotbah Dhamma. Bagi para bhikkhu, ini adalah hari untuk mengakui pelanggaran aturan (Patimokkha) di hadapan komunitas.
Esensi yang Sering Terlewat: Bukan Cuma Ritual, Tapi Transformasi
Nah, setelah melihat sekilas berbagai perayaan itu, mungkin muncul pertanyaan: apa sih gunanya bagi orang awam di zaman sekarang? Apakah cuma seremonial belaka? Jawabannya tentu tidak. Setiap hari besar Buddha dirancang sebagai "pengingat" dan "pemicu".
Pertama, ini adalah pengingat akan jalan yang telah ditunjukkan Buddha. Dalam kesibukan sehari-hari, kita mudah lupa untuk berhenti, bernapas, dan merenungkan hidup. Hari-hari besar ini memaksa kita (dalam arti baik) untuk melambat dan melihat ke dalam.
Kedua, ini adalah laboratorium praktik. Teori tentang cinta kasih, kedermawanan, dan kebijaksanaan itu bagus, tapi harus dipraktikkan. Pada hari Waisak, kita praktik memberi (dana). Pada hari Asadha, kita perdalam studi (pariyatti). Pada hari Kathina, kita perkuat komunitas (sangha). Jadi, setiap perayaan punya "proyek praktik" nya sendiri.
Ketiga, ini tentang komunitas. Manusia adalah makhluk sosial. Berjuang sendirian dalam pengembangan spiritual itu berat. Dengan berkumpul di vihara, merasakan energi kolektif orang-orang yang punya niat baik, kita jadi terinspirasi dan termotivasi. Rasa kesendirian pun berkurang.
Bagaimana Bisa Ikut Merasakan Maknanya, Meski Bukan Umat Buddha?
Kamu mungkin bukan pemeluk agama Buddha, tapi tertarik dengan kedamaian dan filosofinya. Tenang, banyak nilai universal dalam hari besar Buddha yang bisa diakses siapa saja. Nggak perlu ikut ritual lengkap kalau nggak nyaman. Coba cara sederhana ini:
- Ambil Momen untuk Hening: Di hari Waisak misalnya, cobalah duduk tenang 10 menit. Renungkan satu hal yang kamu syukuri (seperti kelahiran), satu insight atau pencerahan kecil yang kamu dapatkan tahun ini, dan satu hal yang perlu kamu "lepas" (bisa dendam, kebiasaan buruk).
- Lakukan Aksi Kebaikan Sederhana: Menyumbang makanan ke panti, membantu tetangga, atau sekadar berkata baik. Itu adalah esensi dari "dana" yang bisa dilakukan kapan saja.
- Baca Singkat tentang Ajaran Intinya: Cari tahu apa itu Empat Kebenaran Mulia atau Jalan Mulia Berunsur Delapan. Mungkin saja ada satu prinsip yang relevan dengan masalahmu sekarang.
- Kunjungi Vihara (Dengan Hormat): Banyak vihara yang terbuka untuk umum, terutama di hari besar. Datanglah dengan sikap hormat, perhatikan suasana, dan mungkin kamu bisa merasakan ketenangan yang berbeda. Tanya kepada pengurus jika ada hal yang boleh diikuti secara umum.
Pada akhirnya, semua hari besar Buddha ini mengarah pada satu tujuan: mengurangi penderitaan dalam diri dan sekitar, menumbuhkan kebijaksanaan, dan hidup dengan lebih penuh kesadaran. Itu adalah tujuan yang, sejujurnya, diidamkan oleh banyak orang, terlepas dari latar belakang agamanya. Jadi, lain kali kamu melihat berita tentang perayaan Waisak atau yang lain, ingatlah bahwa di balik kemeriahan lampion dan prosesi, ada ajakan yang sangat dalam untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih sadar, dan lebih berbelas kasih. Dan itu adalah pesan yang selalu relevan, di hari besar apa pun.